Thursday, September 19, 2019

Pemicu: Drama Sumur dan Gunting

Melewati 2 hari terakhir dengan tanpa kemarahan dan emosi meledak-ledak, menjadi suatu prestasi luar biasa buatku. Meski pemicu tetap datang, Alhamdulillah aku bisa merespon dengan lebih baik, lebih tenang.

Ya, pemicu, bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bisa dari rengekan anak, bisa dari sekedar komen yang tidak membuatku nyaman di sosial media, bisa juga dari hal sederhana seperti telat bangun tidur di saat pekerjaan rumah sedang banyak-banyaknya. Apapun bisa jadi pemicu, yang mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bisa jadi besar dan mengganggu buatku.

Jika bicara tentang pemicu, maka aku juga mencari ke akarnya. Apa kira-kira?

Apakah peristiwa saat aku masih kecil dulu, ketika tinggal di sebuah pedesaan di Jawa Tengah. Di usia sekitar 4-5 tahunan, aku lupa secara persis, kesalahan apa yang aku lakukan hari itu. Yang aku ingat, Ibu begitu marah kepadaku. Sambil berdiri tepat di depanku, bersebelahan dengan sumur yang ada di samping kami, Ibu menunjuk-nunjukkan jarinya seakan meyakinkan, kalau aku bersalah akan sesuatu hal. Sayangnya sampai tulisan ini kubikin, aku masih lupa apa masalah sebenarnya.

Sekilas dalam memoriku, Ibuku membawa gunting besi jaman dulu, ukurannya besar, berwarna hitam. Ibu mengancam. Ya, ibu mengancamku. "Ibu mati saja dengan nusuk gunting ini ke perut Ibu ya!", teriak Ibuku. Pembantuku yang ada di dapur dekat kami berdiri, hanya terdiam dan seolah ingin menenangkan ibuku tapi ia pun hanya tertahan dengan piring yang masih disekanya.

Aku yang ada di hadapan Ibuku, cuma bisa menangis tersedu, sesenggukan, dan bilang: "Jangan Bu... Jangan".

Memori masa aku masih balita ini, masih terus melekat di ingatanku, hingga hari ini, di usiaku jelang 40 tahun. Di saat aku juga sudah berkeluarga, punya suami, punya anak.

Tuesday, September 17, 2019

Analisa Akurat?

Secara formal, aku memang belum pernah konsultasi di sebuah klinik psikologi ataupun yang serupa. Yang pernah aku lakukan, diskusi dengan salah satu rekan yang punya profesi psikolog. Disini aku pernah ungkapkan emosiku yang kadang meledak-ledak, kadang merasa down dan untuk up lagi itu butuh perjuangan luar biasa.

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasanku, temanku yang psikolog ini bilang: "Terus apa yang biasanya kamu lakukan saat hal itu terjadi". Lalu kujawab: "Setelah reda, aku biasanya menenangkan diri, terutama lebih ibadah, berusaha lebih dekat dengan Sang Pencipta". Temanku ini langsung bilang: "That's great. Itu memang cara paling ampuh".

Nah, lalu apakah dengan ini, analisa bahwa aku depresi ini benar adanya? Atau hanya khayalanku aja? Saat berbincang dengan temanku ini dia hanya memastikan, kalo aku bukan bipolar. Karena kalo bipolar itu mood swingnya begitu cepat, misal dari senang ke sedih dan sebaliknya. Sementara aku, lebih ke arah depresi karena ketika terpuruk, udah deh langsung lah merasa tersungkur sesungkur-sungkurnya.

Dari beberapa artikel yang kubaca, apa-apa yang aku alami mengarah pada stres berkepanjangan sampai menjadi sebuah depresi. Secara keilmuan, apakah aku layak disebut seseorang yang *penyakitan* dengan nama depresi?

Apakah aku perlu ke psikolog atau ahli kejiwaan dengan benar-benar formal, make appointment, lalu *berobat* secara rutin? Apakah dengan aku sebagai pasien, baru layak disebut depresi?

Beberapa rekan yang aku tahu, mengaku dirinya depresi, meski secara posisi kurang lebih sama sepertiku, tidak pernah memeriksakan diri ke ahlinya. Bedanya mungkin, aku pernah sekali bertemu dan berkonsultasi dengan temanku yang psikolog, meski ini dalam kondisi santai, bukan di klinik ataupun instansi medis lainnya. Hanya dari teman ke teman. Yang satu merasa depresi atau lebih tepatnya memastikan, sementara satunya adalah seorang psikolog.

Sebenarnya, aku ingin sekali pergi ke psikolog ataupun orang-orang yang berkompeten di bidang ini, mungkin aku bisa lebih terbantu. Tapi alasannya klise. Malu. Ya, malu! Masih tidak terbayang ketika aku antri di ahli kejiwaan, gimana nanti kalo bertemu teman/ saudara? Mau bilang apa? Kenapa periksa ke psikolog? Dan beragam pertanyaan lainnya yang andai terjadi, apakah aku bisa jawab secara jujur?

Friday, September 13, 2019

Terkendali

Tulisan ini sebenarnya ingin aku tulikan kemarin. Ternyata tayangan youtube lebih menggodaku untuk kulahap, sampai aku ngantuk dan memutuskan menuangkannya esok pagi.

Jadilah pagi ini, setelah beberes sebentar, aku segera ingat janjiku untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin. Bagaimana aku menghadapinya? Apakah aku berhasil melalui hariku tanpa amarah berlebihan? Tanpa meledak-ledak seperti dua hari berturut-turut sebelumnya?

Yes, I did it!

Aku berhasil melalui hari jumat 13 september kemarin ini dengan mulus. Beberapa kali anak perempuanku merengek, Alhamdulillah aku bisa kendalikan diri. Hanya berusaha bersikap tegas, hanya sebagai reminder, tanpa perlu bentakan, tanpa perlu emosi berlebihan.

Ketika melalui 1 hari dengan kepala jernih, rasanya begitu lega. Seperti aku berhasil menahlukkan gunung tertinggi di muka bumi ini.

Ketika berhasil melalui 1 hari dengan mampu menjaga apa yang keluar dari mulut ini adalah hal-hal yang tetap adem, rasanya begitu luar biasa. Seperti aku berhasil mengalahkan ribuan orang di lomba marathon.

Coba aku ingat-ingat lagi, apa yang membuat hari-hariku kemarin begitu nyaman kujalani. Sebenarnya aku juga mengalami hari-hari nyaman seperti ini beberapa kali, tapi entah mengapa dalam seminggu masa tenang hanya berlangsung 2-3 hari, selebihnya aku kembali kambuh.